dari hati untuk semua….

(Suara Dakwah Islam dari Twin Tower I KLCC)

Geoscientist Muslim : Achmad Nurhono

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan

bagaimana akibat (yang diderita )oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta

memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah dating kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah tidak sekali-kali berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS Ar-Rum 9).

Perjalanan ini.  Terasa sangat menyedihkan. Sayang engkau tak duduk. di samping ku kawan.
Banyak Cerita. Yang mestinya kau saksikan. Di tanah kering bebatuan. Oh… Oh… Oh…
Tubuhku terguncang. Di hempas batu jalanan. Hati tergetar menatap Kering rerumputan.                                                      Perjalanan ini pun. Seperti jadi saksi.  Gembala kecil. Menangis sedih  Oh… Oh… Oh…
Kawan coba dengar apa jawabnya ? Ketika dia kutanya mengapa?  Bapak Ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini. Sesampainya di laut. Kukabarkan semuanya. Kepada karang kepada ombak. Kepada matahari.  Tetapi semua diam…Tetapi semua bisu.. ..Tinggal aku sendiri.Terpaku menatap langit Barangkali di sana ada jawabnya. Mengapa di tanah ku terjadi bencana? Mungkin Tuhan mulai bosan Melihat tingkah kita. Yang
selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan. Bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.     Oh… Oh… Oh…(Syair lagu “Berita kepada Kawan”, Ebiet G.Ade).

Tantangan kontemporer dakwah umat Islam saat ini adalah berupa gempuran sistimatis dari arus pemikiran Liberalisme, Sekularisme, Hedonisme dan masih suburnya Klenikisme dalam bentuk Anisme, Sinkretisme bermuatan bid’ah, khurafat dan takhayul, yang ternyata masih subur hidup dalam masyarakat Indonesia. Ini terlihat kepermukaan secara nyata khususnya ketika merespon fenomena musibah letusan gunung Merapi atau musibah lainnya. Artikel bagian kedua ini, berusaha untuk meluruskan worldview umat Islam yang masih sedang dan telah terkontaminasi dalam sistim cara berpikir, sikap mental dan cara bertindak dari worldview sekuler (Barat) atau luar Islam. Uraian ini khususnya akan mencoba mengangkat pembahasan musibah bencana alam (natural hazard) dalam kerangka perspektip woldview (pandangan hidup/alam) Islam khususnya dalam pemahaman kerangka konsepsi Sunatullah (Hukum Allah) dan hukum “Sebab-Musbab” (Causality Principle).

Dengan pendekatan framework worldview “Sunatullah” dan “Causality Principle” ini diharapkan umat Islam akan lebih baik, proporsional dan benar memahami “hakekat musibah dan dibelakang pesan Allah mengapa dapat terjadi berbagai bencana alam ini ?” Bagaimana hubungannya dengan perbuatan manusia yang dosa/durhaka dan merusak alam semesta ? Seberapa jauh ada hubungan sebab dan akibat (hukum kausalitas) dalam kerangka worldview Sunatullah, berbagai macam kedurhakaan dan kerusakan yang dilakukan manusia dengan musibah letusan gunung Merapi, gempabumi/Tsunami ? Bagaimana menjelaskan ini semua secara ilmiah dengan informasi berdasarkan ilmu pengetahuan namun tidak keluar dari framework worldview Islam ?

Dalam perspektip worldvied Islam, segala sesuatu yang ada pada alam dunia atau alam semesta ,baik itu besar ataupun kecil sekalipun, setiap fenomena, setiap kejadian yang terlihat (seen/observable/alam syahadah) ataupun tidak terlihat (unseen/alam gaib), bahkan setiap misteri sekalipun, pada hakekatnya adalah “ayah” (bentuk jamak dari ayat), adalah suatu “tanda” (sign), suatu bukti, atau suatu keajaiban yang sungguh-sungguh terjadi dialam fisik, yang bersaksi tentang Kekuasaan-Nya, Daya Kreasinya, Kepandaian-Nya, Kecintaan-Nya, Kasih Sayang-Nya Kebesaran-Kemuliaan dan Keagungan-Nya dari pencipta alam semesta ini, yaitu Allah Rabbul Alamin. Perhatikan ayat2 dibawah ini yang menjelaskan tentang konsep “ayat” (tanda/sign) ini :

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”(QS. Fushilat, 41:37.)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang beraka(ulil-alab/cendekiawan Muslim)l”(QS.Al-Imran, 3:190.)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan(pluralitas/kemajemukan, bukan Pluralisme) bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui” (QS.Ar-Rum, 30:22).

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya (Qs. Ar-Rum, 30 : 24).

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak”      (QS, Ar-rum, 30 :20).

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda Kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah”(QS.Al-Araaf, 7:179).

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang alami sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”(QS.Yunus, 10:92).

Berdasarkan ayat-ayat diatas (dan masih banyak lagi ayat-ayat sejenis) terlihat dengan jelas bahwa semua fenomena alam, termasuk dengan terjadinya musibah letusan gunung Merapi dan gempa bumi/tsunami, terjadinya sejatinya tidak akan pernah lepas dari konsep Ketuhanan, Pencipta-Nya, yang dikenal dengan doktrin shahadat Tauhid “La illaha illa-Llah” (Tiada Tuhan selain Allah). Doktrin Tauhid ini mempunyai dua konsekuensi fundamental, Pertama, Prinsip kasatuan kosmis, khususnya kesatuan dunia-alam, dunia-fisik dan Kedua, Prinsip kesatuan ilmu pengetahuan dan agama.

Para scientist-filosof Muslim menjadikan dua konsekuensi tersebut sebagai fondasi maupun tujuan science. Ketika mereka berhasil memperluas cakrawala science dengan menciptakan pengetahuan baru, mereka semakin bertambah yakin pada kebenaran dan tujuan science diatas. Melalui pembuktian adanya kesaling-berkaitan seluruh bagian dari alam semesta yang diketahui, mereka pun semakin yakin bahwa kesatuan kosmis membuktikan dengan jelas adanya ke-Esaan Allah (Lihat QS. Al-Anbiyaa, 21 :22 :” Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”).

Dalam pandangan worldview Islam, menurut almarhum mujahid dakwah Prof.Dr.Ismail Raji Al-Faruqi, dalam buku masterpiece “Tauhid”, dijelaskan bahwa alam adalah ciptaan dan sekaligus anugerah. Sebagai ciptaan, alam bersifat teologis, sempurna dan teratur. Sebagai anugerah, ia merupakan kebaikan yang tidak mengandung dosa yang disediakan untuk manusia (“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir”, QS.Al-Jaatsiyah, 45:13). Tujuannya adalah agar manusia mempunyai peluang besar untuk melakukan kebaikan, kemakmuran dan mencapai kebahagian didunia dan akherat dalam “Pengelolaan alam”. Tiga konsep nilai-nilai dasar ini, Keteraturan, Bertujuan dan Kebaikan, menjadi tiga prinsip utama dari worldview Islam tentang konsepsi alam, yang semakin jauh dilupakan oleh banyak manusia dewasa ini.

Artinya alam dipandang sebagai Sunatullah Kauniyah (wahyu Allah) dan merupakan sumber Utama (Principle Source) untuk memperoleh proyeksi tentang visi dan kebenaran pengetahuan tentang kebijaksaan (wisdom) dan kekuasaan-Nya.

Karenanya berbagai macam musibah alam yang terjadi di Indonesia dan bahkan seluruh penjuru dunia, tidaklah pernah terjadi secara kebetulan. Sebab alam semesta ini adalah ciptaan Allah yang berada dalam genggaman-Nya. Allah-lah yang mengatur segala urusan alam, mengetahui yang kecil dan yang besar, bahkan yang nyata maupun yang gaib sekalipun tidak akan luput dari genggaman kekuasaan-Nya, Sunatullah-Nya. Perhatikan dengan seksama dan pelajari secara serius ayat dibawah ini untuk diambil hikmah dan kebijakan sebagai ilmu yang benar dari Allah :

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauful mahfuz).”(QS.Al-An’am, 6:59)

Sejatinya alam ini tidak berjalan secara sia-sia. Allah-lah yang memperjalankannya dan Allah-lah yang berkuasa atas segala sesuatu didalamnya. Apapun yang berjalan dialam, dipermukaan (surface) atau bahkan dibawah permukaan (subsurface), apa yang berjalan dibumi, planet-planet dan bintang ditatasurya yang bergerak dilangit, tanaman yang tumbuh, binatang yang berkembang biak, dan segala ciptaan-Nya dialam semsta ini, semuanya tanpa terkecuali satupun adanya/eksistensinya (wujud) dalam perkenan dari Allah yang berada dalam kekuasaan-Nya, atau berada dalam Sunatullah-Nya. Allah-lah yang mengguncang bumi, menggerakan lempeng tektonik (Plate Tectonik) sehingga terjadi letusan gunung api, gempa bumi, tsunami. Allah-lah yang memperjalankan aliran sungai, aliran lahar dingin, membuat angin berhembus, terjadinya hujan, banjir dan sebagainya. Tapi mengapa terjadi musibah alam pada saat tertentu dan pada saat lain tidak terjadi musibah alam ini ? Mengapa tempat tertentu terjadinya dan tidak terjadi pada tempat lain ?

Dalam Al-quran surah Fushilat (41) ayat 53, Allah SWT. telah mengingatkan umat Islam untuk mempelajari dan mendalami dengan cermat tanda-tanda kekuasaan Allah, yang tidak lain adalah Sunatullah (Hukum Allah) di alam semesta dan pada diri manusia.  Bahkan umat manusia di ”challenge” oleh Allah agar dapat menemukan kebenaran dan kekuasaan Allah pada berbagai macam ciptaan-Nya . Jika Allah Allah menginformasikan untuk mempelajari berlakunya, bekerjanya, beroperasinya Sunatullah diseluruh alam semesta ciptaan-Nya, maka harus kita yakini dengan ilmu yang benar dan iman Tauhid yang sempuna bahwa pasti ada hikmah, pelajaran dan kebijakan-Nya dibelakang peristiwa ini. Kajian kali ini akan dipusatkan pada usaha untuk menangkap dan mengambil hikmah dan kebijakan Allah pada berbagai macam fenomena bencana alam (letusan gunung berapi, gempa bumi, Tsunami, dll) yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia.

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?(QS.Fushilat, 41:53).

Pada bagian pertama, telah diuraikan bahwa berbagai macam musibah alam yang terjadi di Indonesia pada hakekatnya sepenuhnya adalah tergantung kepada kehendak (Iradah) Allah. Didalam Al-quran Iradah Allah tersebut disebut juga dengan sebutan Sunnah Allah, Kalimah Allah, Hukum (ketentuan) Allah. Bagaimana kaitannya hukum alam dan hukum Allah ini ?

Alam sebagai Sumber “Hukum-Hukum Ilahi” (Sunatullah).

Dr.Osman Bakar dalam bukunya populernya“Tauhid dan Science” menjelaskan bahwa salah satu aspek utama dari sains modern adalah keberhasilan untuk semakin banyak menemukan apa yang dalam sejarah intelektual Barat disebut “hukum-hukum-alam” (Natural Laws), yang sejatinya tidak lain adalah juga “Sunatullah”. Gagasan bahwa kosmos (alam semesta) memiliki hukumnya sendiri dapat ditemukan pada setiap peradaban. Pada alam semesta, dapat diamati adanya keteraturan, kelestarian dan harmoni yang indah/sempurna (“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang/cacat. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang/cacat ? ; Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah” (mencari cacatnya)(QS Al-Mulk, 67:3-4).

Namun, dalam sains modern, hukum-hukum alam” telah kehilangan signifikansinya spiritual dan metafisiknya. Pada kenyataanya, “hukum-hukum alam” dilihat banyak orang dewasa ini, sebagai bertentangan dengan hukum-hukum Allah (Sunatullah) yang ditemukan dalam agama. Sikap inteltual sekuler/atheis ini terlihat jelas pada worldview fisikawan cosmology terkenal abad ini, Stephen Hawking & Leonard Mlodinow dalam buku terbaru mereka yang menggemparkan “The Grand Design” (New Answers to the ultimatre questions of life) yang salah satu statement sekulernya menyatakan “A great many universe were created out of nothing. Their creation does not require the intervention of some supernatural being or god. Rather this multiple universe arise naturally from physical law” (Lihat Halaman 8-9).

Perpecahan antara “hukum alam” dengan hukum Allah memiliki konsekuensi yang sangat parah bagi kesatuan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan spiritual (agama). Jika kita ingin mempertahankan keterpaduan (integrasi) ini didunia modern, maka salah satu jalan yang mungkin adalah penekanan kembali status metafisik atau spiritual hukum-hukum alam dibawah kerangka hukum metafisik worldview Islam/tauhid. Ini satu keharusan bagi umat Islam.

Dalam Islam, sejatinya tidak pernah ada perpecahan antara hukum-hukum alam” dengan hukum-hukum Allah (Sunatullah Kauniyah). Hukum alam pada hakekatnya adalah juga hukum Allah. Newton ketika menemukan hukum gravitasi, karena worldviewnya sekuler, tidak mengetahui bahwa itu adalah juga hukum Allah, sehingga terkenal didunia science barat dengan sebutan hukum gravitasi Newton. Al-Khawarizmi, Al-Biruni dan banyak cendekiawan cemerlang Islam abad pertengahan, dengan framework scientific worldview Islamnya, tidak pernah lepas dengan Maha Penciptanya, dan menyadari bahwa itu semuanya adalah Sunatullah kauniyah. Semua hukum merupakan refleksi dari prinsip Ilahi, Tuhan adalah Pemberi Hukum. Allah mewujudkan kekuasaan dan kehendak-Nya (Iradah) baik dikosmos maupun diwilayah manusia melalui hukum-hukumnya. Pada wilayah manusia, Allah telah menetapkan sebuah hukum (syariat) untuk setiap orang. Syariah Islam adalah hukum terakhir yang diwahyukan. Sementara terdapat banyak hukum Allah yang diturinkan kepada umat manusia dalam sejarahnya, yang disebut dalam Islam sebagai “nawamis al-anbiya” (hukum-hukum nabi), namun hanya ada satu hukum Allah yang mengatur seluruh mahluk, termasuk alam semesta yang disebut “namus al-khilqah” (hukum penciptaan).

Meskipun kita berbicara tentang satu hukum Allah yang mengatur seluruh kosmos, namun terdapat bebrbagai himpunan hukum yang berbeda dan bertingkat-tingkat untuk tatanan ciptaan yang berbeda. Bahkan dalam tatanan ciptaan yang sama, seperti pada tatatanan alam, terdapat hukum-hukum yang berbeda dan bertingkat untuk spesies wujud yang berbeda. Seperti juga pada ilmu alam kebumian (geosciences), berlakunya hukum “Lempeng Tektonik” (Plate Tectonic) yang mengakibatkan terjadinya letusan gunung api, gempa bumi dan tsunami sebagaimana dijelaskan pada bagian pertama. Alqur’an sendiri juga mengatakan bahwa setiap mahluk memiliki watak atau karakternya sendiri-sendiri. Tujuan sains Islam adalah untuk mengetahui watak sejati segala sesuatu sebagaimana yang diberikan oleh Allah. Sains Islam juga bertujuan untuk memperlihatkan adanya Kesatuan “Hukum Alam” (the Unity of Natural Laws) sebagai refleksi dari Prinsip Ilahi, Tauhid. Dalam perspektip worldview Islam, mengenal dan mempelajari sifat atai tabiat alam dan mahluk ciptaan Allah, adalah berarti mengenal konsepsi “Islam” atau “sikap tunduk” atau “taat” alam/mahluk kepada kehendak Allah, Iradah Allah, Sunatullah, baik Sunatullah Kauliyah (Diwahyukan) maupun Sunatullah Kauniyah (Tidak diwahyukan namun terdapat pada penciptaan-Nya). Untuk mendalami konsepsi ke-Islaman alam semesta dan segala ciptaan Allah perhatikan dengan seksama bagaimana hal ini diinformasikan dengan indahnya oleh swt dalam firman-Nya :

أَفَغَيْرَ دِينِ اللّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah ber-Islam (serah diri) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan” (QS. Ali-Imran, 3 : 83).

Dengan ayat ini Allah telah menjelaskan tentang hakekat ke-Islaman alam semesta yaitu bahwa segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi, tanpa terkecuali satupun, telah ber-Islam kepada-Nya. Walaupun seandainya manusia masih mau mencari agama lain. Maka untuk memahami dengan tepat apa yang dimaksud oleh Allah dengan arti “Islam” itu sebenarnya kita perlu meneliti apa sifat alam ini seluruhnya. Apa gerangan yang merupakan ciri khas seluruh alam ini, yang tidak dapat disangkal oleh siapapun ? Apakah sifat alam yang sudah berlaku sejak terciptanya, sampai saat ini dan berlangsung sampai masa depan, yang sifat utama Sunatullah Kauniyah berlakunya tabiat alam adalah pasti (exact), tidak berubah (immutable) dan obyektip, walaupun sebahagian besar manusia (cendikiawan sekuler dan atheis) tidak menyadarinya, karena berlakunya hukum alam ini tanpa keterlibatan kemauan manusia ? Mari kita simak lagi ayat lain yang senada dengan spiorit ayat diatas, namun menggunakan redaksi yang berbeda :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاء

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS.Hajj, 22:18).

Dari ayat ini dapat difahami bahwa seluruh alam ini, dari benda-benda langit, yaitu matahari, bulan, dan bintang-bintang, sampai kepada isi bumi, gunung-gunung, flora dan fauna telah bersujud kepada Allah. Tepatlah jika disimpulkan bahwa pengertian ‘Islam” yang ada dalam ayat 83 Ali Imran tersebut sama dengan arti “sujud” dalam ayat terakhir ini. Karena kedua-duanya adalah sifat atau tabiat seluruh alam terhadap Allah. Sifat ini adalah “pasrah” atau “patuh” kepada ketentuan hukum atau sistem nilai yang tetap, konsisten dan terpadu, sehingga semuanya bertabiat dan berjalan secara teratur dan sangat harmonis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan  bahwa secsara Kosmologis, Islam artinya “pasrah” atau “patuh” atau “taat” kepada Allah.

Ketundukan dan kepatuahan atau dalam worldview ke-Islaman alam semesta ini kepada Allah adalah berdasarkan dekrit-Nya, atau “by design” secara fitrahnya, telah diterima oleh alam dengan patuh (taat), suka atau tidak suka (thau’an au karhaan). Bahkan hal ini sudah berlaku sejak awal terciptanya alam semsta ini, ketika bumi, matahari, bulan dan bintang belum berbentuk, yakni masih merupakan partikel (zarrah) yang beraburan (gas), mereka sudak ber-Islam kepada Allah tanpa berkecuali. Kejadian asal muasal alam semesta ini menjelaskan teori alam semsta yang diakui dizaman modern, yaitu “Bing Bang Theory” atau “Expanding Universe” yang baru ditemukan pada tahun 1929 oleh Hubble. Ayat tentang ke-Islaman alam semesta tersebut adalah :

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “”Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa””. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”(QS.Fushilat, 41 : 11).

Dr. Ali Issa Othman dalam buku “Manusia menurut Al-Ghazali”, menjelaskan bahwa konsepsi Islam menurut Al-Quran, jika dianalisis bahwa inti daripada Islam mencakup 5 kelompok yaitu :1.Islam dari kosmos (alam semesta); 2. Islam dari segala sesuatu yang bernyawa (dawah) dan tidak bernyawa; 3. Islam dari semua manusia, baik secara sukarela ataupun terpaksa; 4. Islam dari mereka yang mengikatkan diri secara sukarela; 5. Islam dari mereka yang mengikuti agama dari Allah,agama Islam, yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad saw, dengan didahului oleh nabi-nabi lainnya sebelumnya.

Berbeda dengan ke-Islaman alam semesta yang sudah berdasarkan dekrit-Nya, “by design” secara fitrah tabiatnya, tidak ada pilihan akan tetap selalu taat kepada hukum Allah, manusia diberi keistimewaan oleh Allah, berupa kemuliaan sebagai ciptaan Allah yang sempurna (master Piece) dibandingkan dengan mahluk Allah lainnya, dan diberikan kemerdekaan (freedom, free will) hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Kemerdekaan atau kebebasan adalah satu-satu anugerah yang diberikan kepada manusia dan tidak pada mahluk ciptaan lainnya. Namun dengan kebebasannya ini, manusia terbagi dalam dua kelompok besar. Pertama, yang menggunakan kemerdekaan atau kebebasannya untuk patuh kepada Allah, maka ini yang dinamakan Muslim, atau; Kedua, Yang menolak untuk mematuhi Allah, maka ini yang dinamakan kufur (ingkar), yang orangnya dinamakan kafir. Kufur secara harfiah dapat berarti “menutupi’ atau “mengisolasi”. Dalam kenyataannya, memang hanya hati manusia yang dapat menolak mematuhi ketentuan Allah, sedang tubuh manusia suka ataupun tidak, tetap Islam kepada-Nya, karena tubuh semua manusia tiada lain adalah bahagian dari alam yang telah mendapatkan dekrit Allah untuk Islam kepada-Nya sebagaimana diterangkan sebelumnya (Lihat QS.Fushilat,41:11). Jadai pada hakekatnya orang kafir, ialah orang yang mengisolasi dirinya dari alam sekitarnya, dari kebenaran Islam, termasuk tubuhnya sendiri, yang sudah Islam kepada Allah. Mereka seolah-olah tidak mampu melihat kenyataan ini, sehingga mereka yang kafir disebut juga jahil atau tolol.

Tujuan dari diberikan anugerah sifat kemerdekaan dan sifat ciptaan struktur terbaik yang diberikan  Allah ini, adalah untuk menguji apakah manusia sanggup mengemban tugas karunia yang mulia ini dimuka bumi (sebagai khalifatullah fil ardhi, Al-Baqarah, 2:30). Ujian ini akan dimenangkan manusia jika ia pandai bersyukur terhadap segala anugerah yang diberikan oleh Allah. Sikap mensyukuri mempunyai nilai tambah (dunia-akherat) yang tinggi sekali manakala diaktualisasikan dalam wujud mengoptimalkan dengan ilmu yang benar secara sistimatis seluruh potensi (lahir-bathin, intelektual, emosional, spiritual, iman, ilmu, amal) yang Allah berikan kepada manusia dan menggunakannya potensi tersebut semaksimal mungkin sesuai/selaras/sejalan dengan maksud dan tujuan Allah memberikan anugerah tersebut. Sebaiknya umat Islam meneladani sikap terpuji Nabi Sulamain a.s terhadap berbagai anugerah yang telah diberikan Allah kepada manusia sebagaimana diinformasikan dalam surah An Naml ayat 40 : “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia

Sebaliknya, janganlah melakukan perbuatan yang merusak atau mencemari lingkungan didarat maupun dilautan sebagaimana dipesankan Allah dalam surah Al-Qur’an dibawah ini :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS,Rum, 30:41).

Ayat ini menjelaskan jenis Sunatullah Kauliyah (diwahyukan) yang menjelaskan hubungan sebab-akibat, bahwa proses terjadinya kerusakan (akibat/dampaknya) dialam ada hubungannya atau melibatkan tingkah laku manusia sebagai penyebabnya. Bahwa terjadinya berbagai macam kerusakan didarat dan lautan adalah akibat dari tidak bertanggung jawabnya manusia dalam menjaga kelestarian sistem lingkungan. Namun, pemahamannya harus hati-hati. Karena itu bukan berarti bahwa manusia adalah penyebab utama (ultimate causality) dari semua kerusakan tersebut. Ditingkat fisik/alam memang sebab-akibat kerusakan didarat dan laut adalah akibat tingkah laku manusia yang tidak beradab/bertanggung jawab. Namun berlakunya proses tersebut, pada hakekatnya adalah tetap dibawah kekuasaan hukum Allah. Menggunakan Thesis Phd-nya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (“Al-Ghazali’s Concept of Causality, with Reference to his interpretations of reality and knowledge”) bahwa dibawah framework worldview Islam, bahwa hukum sebab-akibat pada realitas fisik/alam (yang beragam dan bertingkat-tingkat), sejatinya adalah bagian daripada framewok dari realitas metafisik. Bahkan realitas makhluk yang relatif itupun selalu tergantung kepada realitas metafisik yang mutlak. Al-Ghazali membela konsep Tuhan Maha Pencipta. Proses penciptaan-Nya yang tertuang dalam Asma al-Husna, yaitu al-Khaliq, al-Bari, al-Musawwir. Kerana itu prinsip sebab-akibat pada alam semesta ini, meskipun telah ditentukan sejak awal penciptaannya, ia tetap tergantung pada Kehendak Tuhan dan tidak berjalan sendiri secara alami.

Karenanya, konsep al-Ghazzali dari prinsip sebab-akibat didalam realiti fisik hendaklah selalu dilihat dalam kaitan dengan realiti metafisik. Ini kami sebut sebagai prinsip “Relationship Epistemology”. Bahkan sebab-akibat di dunia fisik sejatinya adalah bahagian daripada sebab-akibat dalam realiti metafisika. Jika demikian maka ilmu pengetahuan tentang fenomena fisik/alam yang empiris dalam bentuk apapun tidak akan bisa dilepaskan dari pengetahuan metafisik. Ini berarti bahwa sains merupakan bahagian daripada teologi/agama. Inilah landasan dari teori sebab-akibat al-Ghazali yang secara diametrikal bertentangan dengan pandangan sains sekuler/atheis Barat moden yang terpisah dari metafisika (teologi/agama).

Tapi dapatkah kita memperoleh pengetahuan dari hukum kausalitas yang mungkin dikaitkan dengan realiti metafisik. Menurut al-Ghazali dapat, sebab ia memiliki prinsip integrasi bahwa setiap ilmu pengetahuan agama adalah rasional dan setiap pengetahuan rasional adalah bersifat spiritual. Dalam proses epistemologinya ia menggunakan metode demonstrasi (al-burhan) para filsuf yang ia modifikasi agar sejalan dengan prinsip-prinsip sebab-akibatnya.

Berlakunya hukum sebab akibat dialam fisik dunia, namun tetap dibawah naungan kekuasaan Allah ini, framework worldviewnya yang sangat jelas sekali terlihat pada ayat dibawah ini :

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS.Ar-Rad, 13 :11).

Inilah satu ayat yang sangat tajam menjelaskan bahwa prinsip worldview sebab akibat (Causalitas Principle) dari perbuatan manusia sejatinya selalu berkaitan dengan Iradah Allah swt.

Jika demikian, bagaimana memahami musibah letusan Merapi, Tsunami, gempa bumi, dll, apakah itu adalah akibat dari dosa-dosa perbuatan manusia disekeliling Gunung Merapi, dipulau  Mentawai atau tempat musibah lainnya di Indonesia. Apakah musibah-musibah itu adalah akibat dan penyebabnya adalah perbuatan dosa dan durhaka manusia ?  Jawabannya, sungguh tidak mudah (jika salah akan mudah terpeleset menjadi sekuler atau atheis), kecuali jika umat Islam menggunakan worldview Islam khususnya dalam prinsip sebab akibat (causalitas principle). Disinilah pentingnya wawasan konsep sebab-akibat Imam Al-Ghazali yang menjadi sangat popular karena ia merupakan bahagian (masalah ke-17) dalam kitab termasyurnya “Tahafut al-Falasifah”. Di situ ia menyatakan bahwa “Apa yang selama ini dianggap hubungan sebab dan akibat adalah tidak pasti (ghayr dharuri).” Artinya proses sebab-akibat itu bisa iya ada hubungan dan bisa pula tidak ada hubungan sama sekali, karena terjadinya adalah dalam peluang kemungkinan (probabilitas). Sejauh persyaratan kondisinya terpenuhi (sufficient condtion) maka proses sebab dan akibat akan dapat terjadi dengan pasti, terjadi sebagai agen perubahan (agent of change) atau media perubahan, namun itu semunya selalu dibawah kekuasaan, Iradah Allah SWT., Penyebab Awal (Ultimate Causality) dari terjadinya sebab akibat fisik/alami.

Marilah kita lihat dalam sejarah umat manusia, bagaimana suatu masyarakat, suatu bangsa dihancurkan oleh Allah SWT dianalogkan dengan musibah Merapi atau musibah lainnya ditanah air. Perhatikan firman Allah dibawah :

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum

mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri.

(QS. At-Taubah: 70)

Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepada (Muhammad saw); diantara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. Ini adalah kisah nyata berlakunya Sunatullah Kauniyah, tentang kaum-kaum yang dimusnahkan Allah dimasa lampau untuk menjadi pelajaran berharga bagi generasi mendatang, agar mereka kembali dengan sungguh-sungguh untuk mengabdi dan menyembah Allah Swt secara benar dan lurus.

Pesan-pesan suci, disampaikan untuk umat manusia oleh Allah melalui utusan-utusan-Nya, telah

dikomunikasikan kepada kita sejak penciptaan umat manusia. Beberapa masyarakat/kaum telah

menerima pesan/ajaran ini sementara yang lain telah mengingkarinya. Adakalanya, ada sejumlah kecil dari suatu masyarakat yang mau menerima perintah suci tersebut mengikuti seorang pembawa risalah (nabi).

Al Qur’an menceritakan kepada kita bahwa peristiwa-peristiwa penghancuran ini, hendaknya dapat menjadi peringaatan bagi generasi berikutnya. Sebagai contoh, tepat setelah penggambaran dari hukuman yang diberikan kepada sekelompok orang Yahudi yang menentang Allah, disini dikatakan dalam Al Qur’an :

“Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.  (QS Al Baqarah 66).

Berita-berita tentang kaum yang telah ada terlebih dahulu yang merupakan bagian penting dalam Al Qur’an, jelas-jelas merupakan sebuah hal yang patut untuk kita renungkan. Sebagian besar dari kaum ini mengingkari para nabi yang diutus kepada mereka dan terlebih lagi menunjukan rasa permusuhan terhadap mereka. Karena keberaniannya, merekapun mengundang kemurkaan Allah kepada mereka.dan merekapun telah disapu bersih dari muka bumi.

Kita akan menelaah tentang masyarakat-masyarakat di masa lampau yang telah dihancurkan karena penentangan mereka terhadap Allah. Tujuan kita pertama adalah untuk menyoroti semua peristiwa ini, setiap peristiwa yang merupakan “peringatan bagi mereka di masa itu”, sehingga mereka dapat menjadikannya sebagai sebuah “peringatan” dan “pelajaran” sekaligus.

Alasan kedua mempelajari penghancuran ini adalah untuk menunjukkan bahwa apa yang

diungkapkan dalam ayat-ayat Al Qur’an benar-benar terjadi di dunia dan menunjukkan keautentikan (kebenaran/kesahihan) cerita-cerita dalam Al Qur’an. Di dalam Al Qur’an, Allah menjamin bahwa ayatayat- Nya dapat diamati di dalam konteks dunia luar. “Dan katakanlah:

“Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesarnan-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. (QS.An Naml: 93)”.

Tanda-tanda Penghancuran Pompeii Pelajaran Musibah Merapi ?

Al Qur’an menceritakan kepada kita dalam ayat berikut bahwa tidak akan ada perubahan dalam

berlakunya hukum Allah.

Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuatnya sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain). Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan,maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-natikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah. (QS Al-Fathir: 42-43)

Sesungguhnya, tidak akan ditemukan perubahan dalam jalan (Hukum) Allah. Siapapun yang menentang hukum-Nya dan memberontak terhadap-Nya, akan menghadapi hukum suci yang sama. Kota Pompeii, adalah sebuah simbul kemerosotan dari Kekaisaran Romawi yang juga terlibat dalam perilaku sexual yang menyimpang dan berakhir pula sama halnya dengan kaum Lut. Kehancuran Pompeii disebabkan oleh letusan gunung Vesuvius. Gunung Vesuvius adalah symbol dari Italia terutama bagi kota Naples . Gunung yang membisu selama dua ribu tahun terakhir. Vesuvius yang dinamakan “Gunung Peringatan”. Bukannya tanpa sebab jika gunung ini dinamakan demikian. Bencana yang menimpa Sodom dan Gomorah memiliki sangat banyak kemiripan dengan bencana yang menghancurkan Pompeii.

Disebelah kanan Vesuvius terletak kota Naples dan disebelah kirinya terletak Pompeii. Lava dan

debu letusan besar gunung api yang terjadi dua ribu tahun lalu melanda warga kota tersebut. Bencana yang terjadi sangatlah tiba-tiba sehingga segala sesuatunya terperangkap sebagaimana dalam kehidupan mereka sehari-hari dan sampai sekarang sama seperti yang terjadi dua ribu tahun yang lalu, seolah-olah waktu telah dibekukan.

Penghilangan kota Pompeii dari muka bumi dengan bencana seperti ini bukanlah tanpa alasan.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut adalah merupakan sarang pemborosan/foya-foya dan perbuatan menyimpang. Kota ini dikenal dengan adanya pelacuran yang sampai pada tingkat tertentu tidak diketahui lagi mana rumah pelacuran dan mana yang bukan. Tiruan alat kelamin dalam ukuran aslinya digantung di depan pintu rumah pelacuran. Menurut tradisi yang berakar dari kepercayaan Mithraic, organ seksual dan persetubuhan tidaklah seharusnya disembunyikan namun dipertontonkan secara terang-terangan.

Namun lava dari letusan gunung Vesuvius menyapu bersih seluruh kota dari muka bumi dalam waktu sekejap. Meskipun demikian sisi yang paling menarik dari peristiwa ini adalah bahwa tidak ada seorangpun yang selamat dari bencana letusan Vesuvius yang mengerikan ini. Sepertinya mereka sama sekali tidak menyadari bencana tersebut, seolah-olah mereka sedang terlena dalam pengaruh guna-guna. Sebuah keluarga yang sedang menyantap makanan mereka saat itu juga menjadi batu (membatu). Beberapa pasangan ditemukan membatu dimana mereka sedang melakukan hubungan badan. Hal yang paling menarik adalah bahwa terdapat pasangan yang berjenis kelamin sama dan pasangan muda-mudi yang masih kecil. Wajah dari kebanyakan jasad manusia membatu yang digali dari Pompeii masih utuh sama sekali, ekspresi wajah-wajah tersebut pada umumnya nampak kebingungan/terkagum-kagum.Disini terdapat sisi yang paling tidak bisa dimengerti dari sebuah bencana. Bagaimana mungkin ribuan orang yang menunggu untuk dijemput sang kematian tanpa mereka melihat dan mendengar apapun?.

Sisi yang nampak dari peristiwa ini menunjukan bahwa menghilangnya Pompeii mirip

dengan peristiwa kehancuran sebagaimana yang disebutkan dalan Al Qur’an yang secara jelas menyebutkan “pembinasaan yang tiba-tiba” seperti yang dihubungkan dengan          peristiwa ini.

Sebagai contoh “warga kota” disebutkan dalam Surat Yasin, bahwa kesemuanya mati secara mendadak dalam waktu yang bersamaan. Keadaan ini diceritakan sebagai berikut dalam SuratYasin ayat 29:

Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka semuanya  mati.

Dalam Ayat 31 Surat al-Qamar, sekali lagi “pembinasan seketika” ditekankan ketika

penghancuran kaum Tsamud dikisahkan:

Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah

mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang.

Kematian warga kota Pompeii yang terjadi secara tiba-tiba memiliki kemiripan sebagaimana

diceritakan dalam ayat terebut diatas. Meskipun demikian tidak banyak hal yang telah berubah sejak Pompeii dihancurkan. Daerah Naples dimana pesta pora berlaku, tidak serusak sebagaimana halnya daerah Pompeii yang tidak bermoral. Kepulauan Capri adalah asal muasal kaum homoseksual dan kaum nudist bertempat tinggal.

Kepulauan Capri dilambangkan sebagai “surga kaum homo” dalam iklan pariwisata. Tidak hanya di kepulauan Capri dan di Italia saja, namun hampir diseluruh dunia dimana kebobrokan moral yang sama sedang terjadi dan orang-orang tetap bersikeras untuk tidak mengambil pelajaran dari kaum-kaum terdahulu.

Renungan Pesan Penutup

Semua peristiwa Sunatullah penghancuran masyarakat/bangsa yang telah kita pelajari sampai dengan sekarang, sejatinya mempunyai kesamaan beberapa sifat-sifat yang umum seperti : melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, menyekutukan/mensyirikan Allah dengan yang lain, berlaku sombong di muka bumi, ketidak adilan dengan sewenang-wenang menguasai tanah milik orang lain, cenderung terhadap perilaku seksual yang menyimpang dan angkara murka, KKN dll. Sifat-sifat buruk dari perbuatan manusia ini sejatinya adalah suatu “sufficient condition” sebab-akibat yang menyebabkan turunnya berbagai musibah Allah. Secara fisik science bahwa pergerakan lempeng tektonik (plate tectonic) lah yang menyebabkan terjadinya tumbukan lempeng yang memicu proses arus konveksi keatas membentuk letusan gunung api dan tsunami. Namun, bukan mustahil bahwa perggerakan lempeng yang mengakibatkan timbulnya musibah letusan gunung api adalah karena dipicu oleh akumulasi kondisi dosa dan perbuatan syirik masyarakat Indonesia khusunya yang berada disekitar gunung Merapi atau disekitar tempat terjadinya musibah.

Namun, tentunya yang paling mengetahui hakekat musibah sebenarnya secara sempurna adalah hanya Allah SWT sendiri. Allahlah kunci-kunci dari segala sebab-akibat bencana alam yang terlihat secara fisik maupun yang gaib dibelakang musibah sekalipun. Manusia diberikan ilmu yang sangat terbatas, ibarat setetes air disamudra lautan ilmu Allah. Sungguh, sangat kecil. Manusia hanya dapat menangkap pesan hikmah, pelajaran dan peringatan-Nnya secara benar manakala umat Islam menggunakan pengetahuan yang benar dalam kerangka worldview Islam yang bersumber dari wahyu Ilahi secara bertanggung jawab.

Adapun, tujuan dari pelajaran, hikmah dan peringatan-peringatan yang terdapat dalam Al Qur’an tentu saja tidaklah hanya untuk memberikan berbagai pelajaran sejarah. Al Qur’an menyatakan bahwa cerita-cerita tentang para nabi diceritakan hanya untuk memberikan sebuah “pelajaran dan peringatan”. Para Nabi yang telah terlebih dahulu meninggal haruslah membawa mereka yang datang setelah mereka ke jalan yang benar :

Maka tidaklah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami

membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu?. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (QS Thaha 128).

Jika kita menyadari semua ini merupakan “contoh-contoh/petunjuk” maka kita dapat melihat

bahwa sebagain dari masyarakat kita tidak lebih baik, dalam hal kemerosotan moral dan pelanggaran dibandingkan dengan kaum-kaum yang dibinasakan dan yang disebutkan dalam kisah-kisah ini. Seharusnya tidak kita lupakan bahwa Allah akan menghukum siapapun orang ataupun bangsa bila Ia berkehendak. Atau Ia akan membiarkan brangsiapa yang Ia ingini untuk tetap hidup biasa di dunia ini (meskipun mereka mengingkari ajaranNya- pen) namun menghukumnya di alam (akhirat) nanti. Al Qur’an menyatakan :

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada ditimpa dengan suara yang keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS Al Ankabut 40).

Dari sini terdapat tanda-tanda yang sangat jelas ….Kita harus selalu mencamkan dalam pikiran kita bahwa bagaimanapun perbedaan yang datang dari berbagai masyarakat atau bagaimanapun tinggi tingkat teknologinya, hal ini tidak ada artinya sama sekali dihadapan kekuasaan Allah. Tidak ada satupun dari hal ini yang mampu menyelamatkan seseorang dari hukuman dan azab Allah. Al Qur’an mengingatkan kita atas semua kenyataan ini :

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan

bagaimana akibat (yang diderita )oleh orang-orang yang sebelum mereka?. Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta

memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah dating kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah tidak sekali-kali berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendir”.(QS Ar Rum 9).

Ketika gerakan lempeng menimbulkan gempa yang mengakibatkan letusan Merapi/Tsunami dengan kekuatan lima skal richter, 8-9 skala richter terjadinya Tsunami Aceh, apa jadinya jika gempa dinaikkan Allah menjadi 25, 50, 100 dan 1000 kali lipat lagi skala richter. Allah Akbar, terjadilah urusan yang sangat besar, yaitu guncang Hari Kiamat, yang harus kita yakini dan imani suatu saat akan datang. Inilah salah satu pesan paling penting yang umat Islam tidak boleh melupakannya, Gempa Bumi Dasyat hari Kiamat. Sudah siapkah kita dengan bekal iman dan amal shaleh yang mencukupi untuk berhadapan dengan Allah. Simaklah ayat2 dibawah ini :

“Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”(QS.An-Nahl, 16:77).

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras”(QS.Al-Hajj, 22:1-2).

“Apabila terjadi hari kiamat. terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya. dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya. maka jadilah dia debu yang beterbangan”(QS.Al-Waqiah,56:1-6).

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya. Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali. tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi”(QS.At-Thaha,20: 105-107).

Inilah pesan penting Allah bagi umat Islam, agar tidak melupakan atau melalaikan dengan hari kiamat. Masalah kiamat ini sering sekali benar-benar jauh dari pikiran umat manusia, seakan-akan manusia akan hidup abadi, seakan-akan kematian hanya ditetapkan untuk orang lain. Banyak orang yang tidak mau memikirkan akherat dan tidak mau mendekat diri dengan Allah. Ini sungguh celaka. Padahal manusia, sejatinya sangat perlu mengingat akherat. Andaikan manusia rajin mengingat akherat akan banyak persoalan didunia ini yang terpecahkan. Lebih jauh lagi, dibalik peristiwa ini, pesannya adalah agar orang-orang yang durhaka merasa terketuk, terpanggil untujk bertaubat, orang-orang yang sesat mau mengikuti petunjuk Allah, dan agar orang yang menyimpang mau mengikuti jalan yang lurus. Inilah akibat moral dari kesadaran akan dasyatnya Gempa bumi Akehrat, yang akhirnya mengantarkan pada kesadaran untuk kembalui kepada Allah kembali bertaubat untuk mensucikan diri dari dosa, kerak, ketamakan, syahwat, hawa nafsu dan perbuatan syirik. Dan marilah kita akhiri tidak bosan-bosan melantunkan do’a suci kepada Allah swt :

“Wahai Yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan” (HR.At-Tirmidzy)

ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Tidak ada doa mereka selain ucapan: “”Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”         (Qs.Ali Imran, 3:147).

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau

ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS Al Baqoroh 32 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: