dari hati untuk semua….

Assalamualaikum wr.wb

Sahabatku rahimakumullah,

Hari Rabu (15 Desember 2010) lusa bertepatan dengan tanggal 10 Muharram 1432 H, dimana pada hari tersebut sebagian dari Ummat Islam mengenal dan memperingati sebagai HARI ASYURA, yaitu adalah hari duka cita  memperingati peristiwa pada 10 Muharram 61 H, 14 abad lalu, dimana telah terjadi pembunuhan yang begitu kejam terhadap Imam Hussein, cucu kesayangan Rasulullah saw, anak dari Siti Fatimah dan Ali Bin Abu Thalib kw, di padang pasir Karballa (Wilayah Irak saat ini).

 

Entah bagaimana kaitan sejarahnya di Indonesia pada 10 Muharram juga diperingati sebagai HARI RAYA YATIM atawa LEBARAN YATIM. Saya masih belum menemukan dalil/literature tentang kaitan Asyura’ dengan ‘Lebaran Yatim’. Meski demikian menurut hemat saya, tradisi ini sangat baik sebagai perwujudan keimanan dan tanda syukur. Namun, hendaknya pemberian santukan kepada anak yatim itu dilakukan secara berkesinambungan, jangan hanya pada 10 Muharram saja..

 

Nah terkait dengan menjelang Hari Raya Yatim tersebut, dibawah ini adalah kisah yang mengharukan tentang Rasulullah SAW dan Anak Yatim

 

Sahabatku rahimakumullah,

Dari Kitab “Durratun Nashihin (Mutiara Petuah Agama” diceritakan riwayat Anas bin Malik ra, Kisah yang terjadi di Madinah di zaman Rasulullah SAW, dimana pada suatu pagi di hari raya Idul Fitri, Rasulullah SAW bersama keluarganya dan beberapa sahabatnya seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendo’akan para muslimin dan muslimah, mukminin dan mukminah agar merasa bahagia di hari raya itu.

Alhamdulillah, semua terlihat merasa gembira dan bahagia di Hari Raya Ied tersebut, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari kesana kemari dengan mengenakan pakaian hari rayanya. Namun tiba-tiba Rasulullah saw melihat di sebuah sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih. Ia memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah usang.

Rasulullah saw lalu bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu.

Rasulullah saw kemudian meletakkan tangannya yang putih sewangi bunga mawar itu dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut : “Anakku, mengapa engkau menangis? Bukankah hari ini adalah hari raya?”

Gadis kecil itu terkejut bukan kepalang. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita : “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Semua anak-anak bermain dengan riang gembiranya. Aku lalu teringat pada Ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikan aku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah saw membela Islam dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku sudah tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu untuk siapa lagi?”

Setelah Rasulullah saw mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang beliau membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: “Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan aku katakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku Rasulullah menjadi ayahmu?  … Dan apakah kamu juga ingin Ali menjadi pamanmu?. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu?…. dan Hasan dan Husein menjadi adik-adikmu? dan Aisyah menjadi ibumu ?. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”

Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya.

Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah saw, orang tempat ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya. Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah saw, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah katapun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah saw menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah saw yang lembut seperti sutra itu.

Sesampainya di rumah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga sejumlah uang  untuk hari raya. Lalu ia diantarnya gadis itu keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya :

“Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”

Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab :

“Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang paman, namanya Ali yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatima Az`Zahra, . Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia dan bangga memiliki adik adikku yang menyenangkan bernama Hasan dan Husein. Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”

Maka anak-anak yang sedang bermain dengannya sampai berkata: “Ah, seandainya ayah-ayah kita mati terbunuh pada jalan Allah ketika perang itu, tentu kita akan begitu.”

Syahdan tatkala Nabi saw meninggal dunia, anak kecil itu keluar seraya menaburkan debu ke atas kepalanya, meminta tolong sambil memekik: “Aku sekarang menjadi anak asing dan yatim lagi.” Maka oleh Ali Bin Abi Thalib kw (dalam riwayat lain ABu Bakar Ash Shiddiq ra) anak itu dipungutnya.

Sahabatku,

Apabila kita amati sejarah, memang misi terpenting dari Islam adalah membela, menyelamatkan, membebaskan, melindungi dan memuliakan kelompok dhuafa atau mustadh’afin (kaum lemah dan dilemahkan), dimana salah satu dari kelompok ini adalah anak yatim. Bila Al Qur’an menyebutkan daftar kaum dhuafa, sering anak yatim menduduki urutan pertama.

 

Kata Yatim disebut sebanyak 23 X dalam Al Qur’an sedangkan kata “pembesar” disebut hanya 10 kali, dan itupun dikaitkan dengan sifat-sifat negatif.

 

Dalam sebuah hadist qudsi diriwayatkan bahwa Allah hanya menerima shalat orang-orang yang menyayangi dan menyantuni orang miskin, ibnu sabil, janda dan anak yatim. Begitu tingginya Al Qur’an mengangat “anak yatim”, hingga dalam Al Qur’an kita dilarang untuk menghardik anak yatim, dan mengancamnya dengan ancaman yang berat kepada orang yang memakan harta benda anak yatim.

 

  • Dalam surat Al Ma’un ayat 1 & 2, jelas dikemukakan bahwa : “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? Itulah orang yang menghardik anak yatim.”

 

  • Berbuat baik kepada yatim adalah salah satu tanda orang yang benar imannya, yang takwa dan orang-orang yang baik. (QS. 2:177 dan QS 76:8)

 

  • Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar” (Q.S.4 (An Nisa): 2);

 

  • “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik” (Q.S.4 (An Nisa ayat 5):

 

  • Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). Q.S.4 (An Nisa ayat 6):

 

Demikian juga didalam Hadist, Rasulullah memberikan banyak contoh yang berkaitan dengan anak yatim, antara lain :

 

  • “Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut yang disentuh tangannya”. (HR. Thabrani, Ahmad);

 

  • “Sesungguhnya, seorang laki-laki mengeluh kepada Rasulullah, karena hatinya keras. Rasulullah berkata :”Usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin”. (HR. Ahmad);

  • “Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya). (HR. Bukhari, Turmudzi, Abu Dawud);

  • “Barangsiapa mengambil anak yatim dari kalangan muslimin, dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke surga, kecuali bila ia berbuat dosa besar yang tidak terampuni”. (HR. Turmudzi);

  • “Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dan sejelek-jelek rumah kaum muslimin ialah rumah yang didalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan jelek”. (HR. Ibnu Mubarak)

  • “Tidak mungkin seorang yatim ikut memakan jamuan makanan, lalu setan mendekati makanan itu.” (HR. At Thabrani);

  • ”Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghiasinya pada hari Kiamat

 

Ya Rasullullah, sungguh mulia ahlakmu, sungguh banyak anak2 yatim-mu, pantaslah engkau bergelar indah “Abul Yatama” (Bapaknya anak-anak Yatim) di seluruh dunia dari dulu hingga akhir zaman.

Wahai para anak Yatim, sama halnya dengan gadis kecil dalam cerita di atas, Laa Tahzan, Janganlah kalian bersedih, justru berbanggalah kalian, karena Bapak kalian adalah Rasulullah saw, sang manusia suci, Kekasih Allah swt.

Allahumma shali ala Sayyidina Muhammad wa ali Sayyidina Muhammad…

Hiiiks…..Hiiks (tanpa terasa air mataku meleleh sembari menulis kisah ini)

Selamat menggembirakan anak Yatim di 10 Muharram, semoga di tanggal 10 Muharam (Asyura’) ini, kita sebagai Muslim dapat mengamalkan esensi Asyura’ itu sehingga menjadikan kita saleh secara ritual sekaligus saleh secara sosial. Yakni, melaksanakan shaum Asyura’ dan memuliakan anak-anak Yatim. Amiin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: