dari hati untuk semua….

Budi Setiadi dan Mar’atush Sholihah:

Budi Setiadi (53), pria yang sehari-hari berprofesi sebagai penarik karcis pedagang di Pasar Klewer Solo, Jawa Tengah, ini mungkin tak pernah berpikir seperti sekarang, yakni sering tampil sebagai motivator.

Semua itu bermula dari perhatiannya yang begitu besar kepada pendidikan anak-anaknya. Sebenarnya itu hal yang wajar, tapi apa yang dilakukan Budi, barangkali melebihi orangtua pada umumnya. Ia rela tak makan, asal anak-anaknya tetap bisa sekolah. Kalau punya uang, ia memilih membelikan buku ketimbang jajan.

 

Contoh lain lagi. Gajinya cuma Rp 450 ribu per bulan. Tetapi ia tak segan-segan memanggil psikolog ke rumahnya untuk mengetahui bakat dan minat anaknya. “Anak-anak saya rata-rata tes psikologi tiga atau empat kali,” katanya. Untuk sekali tes ia mesti membayar Rp 200 ribu. Padahal untuk makan saja susah.

 

Bagi pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah ini, dengan mengetahui bakat dan minat anak akan lebih mudah untuk mengarahkan pendidikannya.

 

Anak ketiganya pernah menangis seharian. Padahal dia baru saja menerima berita gembira. Dia diterima di dua perguruan tinggi paling favorit di Indonesia: Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

 

Masalahnya, si ibu menghendaki si anak memilih jurusan kedokteran di UGM, sementara si anak lebih suka mengambil teknik di ITB. Permintaan si ibu tentu wajar. Siapa tak bangga punya anak dokter. Apalagi di UGM anaknya mendapat beasiswa hingga lulus. Tapi Budi tak mau memaksa anaknya. Jalan keluarnya, ia memanggil psikolog untuk mencari bakat anaknya. Hasilnya, anaknya memang lebih berbakat di bidang teknik. “Sekarang dia sudah semester lima,” kata Budi.

 

Budi dikaruniai anak enam orang, buah perkawinannya dengan Nurina Mar’atush Sholihah (50). Dua anaknya kini kuliah di UGM, satu di ITB. Dua anaknya lagi sekolah di sebuah SMU unggulan dan paling bontot masih SD, masuk kelas anak berbakat.

 

Dilihat dari gajinya, dihitung pakai rumus matematika apa pun, pasti tidak cukup untuk biaya pendidikan ke enam anaknya. Budi pun mencari tambahan penghasilan. Ia nyambi berjualan tali rafia. Sekalipun demikian, Budi mengaku itu juga belum cukup untuk menambal kebutuhannya. Apalagi, ia juga mesti membiayai pengobatan istrinya yang sakit parah. Akhirnya, ia tak pernah lupa memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Ketika itu menjelang hari terakhir pendaftaran ulang mahasiswa baru ITB. Ia harus mengantarkan putrinya ke Bandung. Padahal, ia sama sekali tak punya uang. Malamnya ia shalat Tahajjud dan berdoa kepada Allah.

 

Paginya, tiba-tiba ada orang mengantarkan surat ke rumahnya. Sampai di sini, Budi belum sadar bahwa pertolongan Allah itu sudah datang. Surat itu digeletakkan begitu saja di meja. Sontak ia berpikir, jangan-jangan itu surat penting, maka segera ia buka. Subhanallah, isinya uang yang jumlahnya cukup untuk biaya daftar ulang anaknya. Buru-buru Budi keluar mengejar orang yang mengantarkannya, tapi orang itu sudah lenyap. “Sampai sekarang saya tak tahu siapa yang mengirim uang itu,” katanya saat ditemui di rumah kontrakannya di pinggiran kota Solo.

 

Rumah itu berukuran 2,5 x 9 meter. Cat dinding dalamnya sudah kusam dan langit-langitnya dibiarkan melompong tanpa atap. Ruang tamunya berukuran 2,5 x 2,5 meter, berisi beberapa kursi lipat yang sudah kusam dan meja belajar yang penuh dengan buku. Terus, di salah satu pojoknya ada seonggok tali rafia, barang jualan Budi. Hanya itu, tak ada barang berharga lainnya.

 

Di rumah seperti itulah Budi membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Rumah dan perkakas rumah tangganya memang apa adanya, namun soal makanan untuk buah hatinya ia tak mau asal-asalan. Terutama yang halal, ia juga berusaha keras untuk memberi asupan gizi, sekalipun hanya bisa membeli ikan asin. Jangan salah, ikan asin termasuk makanan bergizi. “Kandungan kalsiumnya tinggi,” kata Budi.

 

Tak heran bila anak-anak Budi tumbuh menjadi anak yang superior (IQ-nya 120-129). Dengan IQ seperti itu, mereka dapat dengan cepat menyerap pelajaran. Prestasi mereka pun melesat. Nilai 9 dan 10 sudah langganan bagi mereka.

 

Tapi anehnya, Budi justru khawatir. Ia takut nilai-nilai tinggi itu bakal mematikan semangat belajar anak-anaknya. “Karena merasa sudah sempurna,” katanya.

Ia kemudian melarang para gurunya memberi nilai 10.

 

Ada juga kekhawatiran lain. Yaitu saat data dari psikolog menunjukkan bahwa salah satu anaknya EQ-nya (Emotional Quotions) rendah. Menurut Budi, anak yang IQ-nya tinggi tapi EQ rendah, maka yang terjadi adalah dia pandai namun kurang bisa bersikap di hadapan orang. “Dia pandai, tapi pasif dan tidak berkembang,” katanya.

 

Guna meningkatkan EQ, Budi kemudian membiasakan anaknya untuk bercerita. Cerita apa saja, walau cerita itu tidak berbobot. “Kalau pulang sekolah, dia saya suruh cerita apa yang terjadi di sekolah. Saya mendengarkan kadang sambil mencuci baju,” cerita Budi lagi.

 

Kini, Budi merasa bersyukur anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Bahkan anaknya yang sulung sedang bersiap mengambil S2 di Jerman. “Tapi saya memberi syarat. Karena dia perempuan, harus menikah dulu,” katanya.

 

Ibarat telah jungkir balik membasarkan anak-anaknya, Budi tak mengharap balasan apa pun dari mereka. “Saya hanya berharap doa, untuk saya, dan ibunya. Itu saja,” katanya.

 

Sejak bukunya beredar (Menembus Batas), Budi banyak diundang untuk memberikan pengalamannya mendidik anak-anaknya.

 

Muallaf

 

Secara formal pendidikan Budi hanya sampai setingkat SMU. Ia kemudian menimba ilmu secara otodidak, dengan membaca dan menghadiri majelis-majelis taklim. “Sejak muda, saya sudah senang mengumpulkan buku,” katanya.

 

Dulu, Budi pemeluk Nasrani. Demikian juga orang tua, kakak, dan adiknya. Dalam perjalanannya, ia kemudian mendapat hidayah masuk Islam. Karena ketahuan oleh keluarganya, ia lantas diusir dari rumah. Hanya berbekal baju yang menempel di tubuhnya, ia hidup berkelana. Beruntung, ia memilih masjid. Sembari membantu pekerjaan takmir, di situ ia banyak belajar ilmu agama. “Dalam waktu tiga bulan saya sudah bisa membaca al-Qur`an,” katanya.

 

Suatu hari ia dipanggil ustadznya. Karena sudah dianggap berkemampuan, ia disuruh menikah. Padahal ia belum punya pekerjaan tetap. “Ustadz bilang, Allah yang menjamin rezekimu, asal kamu lurus beribadah kepada-Nya,” Budi menegaskan.

 

Budi pun berangkat ke Klaten hendak meminang Mar’atush Sholihah. Dia tergolong perempuan “istimewa”. Satu desa, hanya dialah perempuan berjilbab saat itu (tahun 80-an). Apalagi, di Indonesia saat itu masih phobia dengan jilbab. Di mana-mana perempuan berjilbab mengalami tekanan, termasuk Mar’atush. Dia dikucilkan dari desanya.

 

Setelah menikah, Mar’atush diboyong Budi ke Solo. Dari kota batik ini, mereka mulai mengarungi bahtera keluarga. Dalam perjalanannya, ternyata keluarga ini banyak mendapat cobaan. Cobaan terberat adalah saat Mar’atush diserang penyakit sinusitis pada 1995.

 

Penyakit ini kemudian menjelma menjadi infeksi mematikan yang menyerang otak. Mar’atush tergolek tak berdaya selama 2,5 tahun. Sejak saat itu, Budi mengambil alih seluruh peran istrinya. Selain mencari uang untuk nafkah keluarga dan membiayai istrinya, ia juga mesti mengurus pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci, memasak, dan sebagainya. Ia juga menemani belajar anak-anak tiap hari.

 

Semuanya itu dijalani Budi dengan perasaan enteng. Kuncinya, “Semuanya saya niatkan ibadah,” katanya.    (*Bambang S/Suara Hidayatullah JULI 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: