dari hati untuk semua….

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer.

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer. 

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer. 

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer.

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer. 

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer. 

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer.

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer. 

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer. 

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer.

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer.

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer. 

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer. 

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer.

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer.

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

 

Mengapa semua ini terjadi? Mengapa peristiwa ini menimpa lereng gunung Merapi dan kota-kota di barat dan selatannya yang terkenal dengan “Kota Budaya”. Dan Mengapa ini terjadi bersamaan dengan gempa bumi yang menyebabkan terjadinya tsunami di pulau Mentawai sebelah baratnya kota Minang kabau-Padang ?  Padahal, baru sebulan lalu, pada awal September 2009, tepat di awal-awal Ramadhan 1430 Hijriah, wilayah kita lain, Jawa Barat bagian selatan,  dihantam musibah gempa serupa. Hanya saja, karena lokasi pusat gempa yang jauh dari daerah pemukiman, maka dampaknya tidak sedahsyat gempa di Sumatra kali ini. Namun, waktu itu, gempa sempat membuat panik warga ibu kota Jakarta. Banyak gedung bertingkat sudah bergoyang dan penghuninya berhamburan.

 

Seperti biasa, setiap terjadi letusan gunung api atau Tsunami/gempa, para ilmuwan  sekuler selalu menjelaskan, bahwa gempa terjadi karena bergeser lempeng (Plate Tectonic) Australian menunjam masuk bertumbuk dengan lempeng Sundaland/Asia yang didalamnya adalah kumpulan kepulauan Indonesia. Akibat tumbukan lempeng maka terakumulasilah dibagian dalam lempeng yang tertumbuk (Subduction zone) energi arus konveksi yang dapat melelehkan lempeng batuan menjadi magma yang dapat bergerak keatas mengaktipkan gunung api yang pasip atau tidur. Bagi orang sekular, baik letusan gunung api, gempa bumi ataupun tsunami atau gempa bumi dianggap sebagai peristiwa alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan aspek Ketuhanan. Sikap cendekiawan sekuler seperti ini yang tidak percaya bahwa Allah ikut berperan dalam segala musibah alam, sejatinya telah diinformasikan allah dalam Alquran surah Jatshiyah, 45 ayat 23-24, yang artinya  :

<p\Bumi Indonesia, negeri kita yang tercinta,  lagi-lagi dihantam oleh musibah yang kali ini berupa letusan gunung Merapi . Pada tanggal 25 November 2010 yang lalu, terutama diwilayah Lereng selatan Merapi, khususnya kota-kota disekeliling Gunung Merapi, Yogyakarta, Magelang, Klaten dan sekitarnya menerima semburan awan panas yang terkenal dilereng Merapi dengan sebutan “wedus gembel” atau ilmiahnya disebut “pyroclastic flow”, dan bahaya lahar dingin setelah letusan sudah berhenti. Karena lahar bertumpuk dipuncak lereng, akibat gaya gravitasi dan gaya kinetik, ditambah dengan air hujan yang intensip, maka meluncurlah lahar dingin ini mengikuti semua jalur sungai kesegala arah terutama kebarat (Magelang) dan ke selatan (Jogyakarta) yang dapat membawa batu-batu sebesar truk atau rumah jauh berkilo-kilometer.

<p

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: